Padaawal-awal saya memberikan beberapa kutipan ayat yang berisi tentang hal-hal yang berbau tentang berakal, berpikir, berilmu dan pengetahuan. Masyaallah ternyata di alquran teori itu sudah ada sejak 1400-1500 thn yg lalu bahkan sebelum para peneliti tahu. artinya quran ini benar2 dari tuhan bkn dari manusia. maka semakin bertambah
Ayat51 Ayat ini menerangkan bahwa Allah membinasakan orang-orang yang sama dengan mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan para nabi pada zaman lampau, mereka telah hancur karena pembangkangannya. Peristiwa-peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah dan bagi siapa saja sesudah mereka beriman.
kecerdasaanemosional dapat terlihat dalam sikap seseorang; pertama adalah istiqamah yaitu dengan cara teguh pendirian terhadap jalan-jalan yang telah ditetapkan Allah Swt, serta tidak mengurangi atau mengabaikan, dan melampaui batas terhadap ajaran-ajaran tersebut. Kedua yaitu rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang,
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian.
abdullah ibn mas'ud) oleh karena itu kita harus bersyukur karena al-qur'an memang dimaksudkan untuk mencerdaskan manusia. 1.perintah untuk berfikir 12 f manusia merupakan ( حينوان نفاطقhewan yang berfikir).berfikir merupakan cirri khas yang membedakan antara manusia dan hewan.melalui potensi yamg allah berikan,manusia mampu untuk
AlQur'an dianggap memberikan pengaruh besar terhadap kecerdasan oleh kedua orang yang bahkan tidak beragama Islam tersebut. Setelah itu, Alm. Eyang Habibie pun tidak pernah lepas melakukan amalan di sepertiga malam; tahajjud, dan membaca al-Qur'an, sampai akhirmya dengan keberkahannya Alm. Eyang Habibie mendapat peringkat pertama.
. 0% found this document useful 0 votes740 views6 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes740 views6 pagesAl Quran Dan KecerdasanJump to Page You are on page 1of 6 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 5 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
ArticlePDF AvailableAbstractThe research study carried out was literature where the results of the research carried out contained several findings in the study, including; First, Humans were created by Allah SWT in a perfect form which makes it different from other creatures. Second, the human mind is a gift from Allah SWT, which is used to think, understand, be able to understand something, from within the human being himself, so that humans have the readiness to absorb everything. Third, religion is a matter of reason and its use must be in accordance with the provisions and limits that have been set and not result in absolute and absolute thinking that can harm humans themselves. Fourth, human intelligence is described through the ability of humans themselves to be able to restrain their lusts, those who do the most charity to remember death and the best in preparing provisions to face life after death. Fifth, in the context of human life today, the intelligence referred to includes intelligence IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, and SQ Spiritual Quotient and there are even other intelligences as part of one's potential that must always be honed and developed. Sixth, the function of reason which is accompanied by good intelligence in Islamic education, with the concepts of tadhakkur, tadabbur, tafakkur and has knowledge and faith, has a very important role in realizing quality Islamic education. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. MUSHAF JOURNAL Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis Vol. 1 No. 1 Desember 2021, page 103-118 103 AKAL DAN KECERDASAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS Muhammad Isnaini Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Indonesia Corresponding author email muh240971isnaini Iskandar Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Email abusyla Abstract The research study carried out was literature where the results of the research carried out contained several findings in the study, including; First, Humans were created by Allah SWT in a perfect form which makes it different from other creatures. Second, the human mind is a gift from Allah SWT, which is used to think, understand, be able to understand something, from within the human being himself, so that humans have the readiness to absorb everything. Third, religion is a matter of reason and its use must be in accordance with the provisions and limits that have been set and not result in absolute and absolute thinking that can harm humans themselves. Fourth, human intelligence is described through the ability of humans themselves to be able to restrain their lusts, those who do the most charity to remember death and the best in preparing provisions to face life after death. Fifth, in the context of human life today, the intelligence referred to includes intelligence IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, and SQ Spiritual Quotient and there are even other intelligences as part of one's potential that must always be honed and developed. Sixth, the function of reason which is accompanied by good intelligence in Islamic education, with the concepts of tadhakkur, tadabbur, tafakkur and has knowledge and faith, has a very important role in realizing quality Islamic education. Keywords Intellect, Intelligence, Qur'an, Hadith. Abstrak Kajian penelitian yang dilakukan adalah literatur yang mana hasil dari penelitian yang dilakukan terdapat beberapa temuan dalam penelitian, diantarnaya; Pertama, Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk sempurna yang 104 menjadi pembeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Kedua, Akal manusia merupaka karunia dari Allah SWT, yang digunakan untuk berfikir, mengerti, dapat memahami sesuatu, dari dalam diri manusia itu sendiri, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Ketiga, Agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Keempat, Kecerdasan manusia digambarkan melalui kemampuan manusia itu sendiri yang dapat menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Kelima, Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Keenam, Fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Kata Kunci Akal, Kecerdasan, Al Qur’an, Hadits. Pendah uluan Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya bentuk. Secara tegas al-qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang sempurna. Diciptakannya manusia dalam bentuk yang sempurna karena juga dilengkapi dengan akal dan kecerdasan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dengan akal dan kecerdasan manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan akal dan kecerdasan manusia dapat mendesain segala sesuatu sesuai dengan apa telah menjadi tuntunan Tuhan. Dengan adanya anugerah akal dan kecerdasan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Islam adalah agama yang menghargai akal, dalam Islam agama dan akal buat pertama kalinya menjalin hubungan persaudaraan. Di dalam persaudaraan itu, akal menjadi tulang punggung agama yang terkuat dan wahyu sendinya yang terutama. Antara akal dan wahyu tidak bisa ada pertentangan. Mungkin agama membawa sesuatu yang di luar kemampuan manusia memahaminya, tetapi tidak mungkin membawa yang mustahil menurut akal Muhammad Abduh, 1993. Allah SWT memberikan nikmat akal kepada manusia sehingga mengangkat derajatnya kepada tingkat berketuhanan dan kesanggupan untuk mengetahui dan memahami tentang Rabbnya. Ini merupakan nikmat dan kemuliaan tertinggi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Selanjutnya 105 Allah menambahkan fitrah bagi manusia yang sesuai dengan apa yang dibawa para rasul, seperti wahyu dan agama yang disyariatkan Allah bagi manusia Rabi’ bin Hadi, 2002. Allah SWT memberikan akal kepada manusia yang dilengkapi juga dengan kecerdasan yang bertujuan untuk dapat menjawab semua permasalahan yang dihadapi manusia. Setiap manusia diberikan anugerah akal yang dilengkapi dengan kecerdasan oleh Allah SWT untuk mengelola kehidupan sesuai dengan apa yang telah menjadi tuntunan Tuhan. Sejak awal penciptaannya manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah fil ardhi dalam menata kehidupan. Rasulullah SAW dalam penjelasannya terkait dengan akal sangat menjunjung tinggi akal, sampai-sampai dikatakan bahwa seseorang dianggap tidak beragama manakala tidak memiliki akal di dalamnya. Demikian pula dengan kecerdasan, Rasulullah SAW juga memberikan penegasan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang bisa menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Hasil dan Pembahasa n Pengertian akal dan kecerd asa n Akal berasal dari bahasa Arab dari kataaql yang berarti akal, fikiran. A. W. Munawwir, Kamus 1997. Dalam bahasa Indonesia, akal berarti alat berpikir, daya pikir untuk mengerti, pikiran, ingatan. W. J. S. Poerwadarminta, 2007. Akal juga berarti daya pikir untuk memahami sesuatu, dsb, jalan atau cara melakukansesuatu, daya upaya Tim Redaksi, 2005. Dalam Lisan al-Arab disebutkan bahwa al-aql berarti al-bijr yang berarti menahan dan mengekang hawa nafsu. Seterusnya diterangkan bahwa al-aql mengandung arti kebijaksanaan al-nuba, lawan dari lemah fikiran albumq. Al-aql juga mengandung arti qalbu al-qalb, yang berarti memahami A. W. Munawwir, 1997. Akal adalah daya pikir dalam diri manusia dan salah satu daya jiwa yang mengandung arti berfikir, memahami, dan mengerti Tim Penyusun, 2005 Kata aql sebagai mashdar kata benda dari aqala tidak didapat dalam Alquran, akan tetapi bentukan dari kataaqalatersebut dalam bentuk fiil mudhâri` kata kerja sebanyak 49 kali dan tersebar dalam berbagai surah dalam al-Qur`an. Kata-kata tersebut misalnya; ta`qilȗn al-Baqarah 44, ya`qilȗn al-Furqan 44 dan Yâsîn 68, na`qilu alMulk 10, ya`qiluha al-`Ankabȗt 43, `aqaluhu al-Baqarah 2. Disamping kata `aqala, al-Qur`an juga menggunakan 106 kata-kata yang menunjukkan arti berfikir, seperti nazhara melihat secara abstrak/berfikir, tafakkara berarti berfikir, Faqiha memahami, tadabbara memahami dan tazdakkara mengingat Tim Penyusun, 2005. Menurut Imam al-Ghazali akal memiliki empat pengertian, seharusnya tidak diberikan satu definisi saja untuknya tetapi untuk setiap pengertian ada definisi masing-masing. Adapun pengertian-pengertian tersebut adalah, Pertama, akal adalah suatu sifat yang membedakan manusia dengan binatang, dan merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang berdasarkan pemikiran, dan akal mampu menghasilkan produk-produk pemikiran yang canggih. Mengutip pendapat al-Harits bin Asad Al-Muhasibi ketika membuat definisi tentang akal, bahwa “Akal adalah suatu gharizah naluri asli manusia yang menyebabkan manusia memiliki potensi untuk menyerap berbagai pengetahuan yang berdasarkan pikiran. Akal ibarat cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk mencerap segala sesuatunya Imam al-Ghazali, 1996. Kedua, yang dimaksud dengan akal adalah pengetahuan-pengetahuan yang telah tersimpan dalam diri anak yang mumayyiz. Seperti tentang kemungkinan terjadinya segala sesuatu yang mungkin terjadi, dan kemustahilan terjadinya segala sesuatu yang mustahil. Misalnya, pengetahuan bahwa dua lebih banyak daripada satu. Atau bahwa seseorang tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan Imam al-Ghazali, 1996. Ketiga, menurut pengertian ini, yang disebut akal adalah pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman tentang berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup ini. Orang yang pikirannya tajam karena telah diasah’ oleh berbagai pengalaman hidup dan memiliki wawasan luas, biasanya disebut âqil orang berakal. Sedangkan orang yang tidak memiliki sifat-sifat seperti itu, biasanya disebut bebal atau dungu atau tidak berakal. Dengan demikian, hal ini merupakan jenis lain dari pengetahuan-pengetahuan yang juga disebut akal. Keempat, bahwa apabila gharizah seperti itu telah menguat dalam diri manusia, sehingga ia mampu memperhitungkan akibat-akibat yang akan timbul dari segala sesuatunya, dan mampu menundukkan serta mengalahkan hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan yang segera, maka ketika itu ia disebut orang berakal Imam al-Ghazali, 1996. Manusia berdasarkan akalnya dapat dibagi kepada empat tingkatan, yaitu, pertama, manusia yang mampu memahami kekuasaan dan kemampuan Allah juga tentang janji dan ancamannya. Kedua, Manusia yang dapat memahami semua kebesaran dan kebenaran Tuhan, tetapi mereka menentangnya demi merenggut kenikmatan dunia. Ketiga, manusia yang mengingkari kebenaran dan tidak bersedia mendekatinya. Mereka menentang kebenaran tersebut, bahkan mengira berada di pihak yang benar padahal mereka berada di ujung kesesatan. Keempat, adalah manusia yang sanggup memahami kebesaran Tuhan sebagai Zat Yang Maha Tunggal dalam mengelola alam raya ini. Golongan ini meyakini 107 bahwa keberhasilan hidup hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada keimanan terhadap-Nya Nash Hamid Abu Zaid, 2003. Dari beberapa penjelasan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa akal merupakan pemikiran, mengerti, dapat memahami sesuatu, dalam diri manusia, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Pengertian Kecerdasan Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti pintar dan cerdik, cepat tanggap dalam menghadapi masalah dan cepat mengerti jika mendengar keterangan. Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi. Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran Daryanto, 2006. Macam-macam kecerdasan menurut para ahli psikologi di dunia menyimpulkan terkait dengan pemetaan kecerdasan quotient mapping seseorang, dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan ini merupakan kecerdasan personal yang melekat pada pribadi seseorang Rustam Hanafi. Akal dan Kecerdasan dalam Perspektif Al-quran dan Hadits Dalam Al-quran, kata aql akal tidak ditemukan dalam bentuk mashdarnya, yang ada hanyalah dalam bentuk kata kerja, masa kini dan masa lampau. Secara bahasa, `aql berarti tali pengikat, penghalang. Al-qur’an sendiri menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Dari konteks ayat-ayat yang menggunakan kata `aql dapat dipahami bahwa ia antara lain mencakup makna, pertama Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, M. Quraish Shihab, 2005 sebagaimana firman-Nya yang artinya Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang alim berpengetahuan. al-`Ankabut 43. Daya yang dimiliki manusia dalam hal ini berbeda-beda. Hal ini diisyaratakan al-qur`an antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai buktibukti keesaan Allah. Bagi orang-orang yang berakal, Q. S. al-Baqarah 164 dan ada juga kata Ulil al-Bâb yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan. Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah seperti nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman. Kedua, bermakna dorongan moral, M. Quraish Shihab, 2005 sebagaimana firman-Nya yang 108 artinya ... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang benar M. Quraish Shihab, 2005. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya. Q. S. al-An`am 151. Ketiga, Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah. Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis dan menyimpulkan serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir. Seseorang yang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya nalar yang kuat dan boleh jadi pula seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat, tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dimengerti mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata “ Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka.” Q. S al-Mulk 10. Kata al-`aql dalam Alquran juga bermakna intelellect. Dalam penggunaannya kata al-`aql mengandung pengertian kemampuan berpikir atau menggunakan nalar. Kata ini telah terserap ke dalam bahasa Indonesia yaitu kata akal. Dalam perkembangannya orang yang memiliki kemampuan berpikir dan nalar sangat tinggi, serta menguasasi suatu pengetahuan tertentu secara sistematis lazim disebut pakar. Seorang pakar belum tentu seorang sarjana. Kata intelektual yang artinya sebanding dengan ulu al-bâb adalah orang yang memiliki dan menggunakan daya intelek pikiran untuk bekerja atau melakukan kegiatannya. Biasanya intelektual adalah orang yang berpendidikan akademis M. Dawam Rahardjo, 2002. Secara harfiah, intelektual adalah orang yang memiliki intelek yang kuat atau intelegensi yang tinggi. Intelegensi adalah kemampuan kognitif atau kemampuan memahami yang dimiliki seseorang untuk berfikir dan bertindak rasional atau berdasar nalar. Kemampuan tersebut bisa diperoleh karena keturunan atau bakat yang ada pada seseorang dari faktor biologisnya, tetapi bisa pula diperoleh sebagai hasil pengalaman lingkungan dan sosialisasi berdasarkan penerimaan norma-norma yang baik-buruk dan benar-salah menurut masyarakat M. Dawam Rahardjo, 2002. Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa akal yang berasal dari kata aql merupakan daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, memiliki dorongan moral, serta memiliki daya untuk mengambil pelajaran dan hikmah. Akal dalam perspektif hadits Terkait dengan hadits Nabi, tentunya banyak uraian mengenai akal, khususnya bila dikaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Berikut ini beberapa hadits Nabi yang mengulas mengenai akal serta berbagai fungsinya. “Sesungguhnya yang pertama-tama Allâh ciptakan adalah akal. Allâh berkata kepadanya, datang menghadaplah!’. Maka iapun datang menghadap. Allâh berkata 109 kepadanya, mundurlah ke belakang!’. Maka iapun mundur ke belakang. Lalu Allâh berfirman, Demi kemuliaan-Kû, Akû tidaklah menciptakan makhluk yang lebih mulia darimu atas-Kû. Dengan sebabmulah Akû menyiksa, dengan sebabmulah Akû memberi, bagimulah pahala dan atasmulah hukuman.” Dalam hadits, Rasulullah SAW menjunjung tinggi akal sampai-sampai dikatakan bahwa seseorang dianggap tidak beragama manakala tidak memiliki akal di dalamnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, sebagaimana diuraikan di dalam Kitab Ihya Ulum al-Din, bahwa “orang alim itu adalah orang kepercayaan Allah di bumi-Nya” lebih dari itu “pada hari kiamat nanti yang memberi syafaat adalah nabi-nabi, para ulama kemudian para syuhada.” Imam al-Ghozali, 1986. Islam sangat peduli dengan potensi akal pikiran manusia. Berkali-kali Allah SWT menyebutkan perihal akal, orang yang berakal, serta penggunaan akal pikiran. Misalnya saja kalimat “afala ta’qilun”, “afala tatadabbarun”, dan sebagainya. Demikian pula di dalam hadis, banyak ditemukan isyarat pentingnya akal dalam beragama. Rasulullah SAW menegaskan bahwa akal merupakan substansi agama. , “Agama adalah akal pikiran, barangsiapa yang tidak ada agamanya, maka tidak ada akal pikirannya”. HR. An-Nasa`i. Hadits tersebut secara tersirat menjelaskan betapa urgen dan vitalnya akal bagi seorang yang beragama. Sehingga seorang yang tidak beragama maka sesungguhnya ia tidak berakal. Agama sesuai dengan akal sehat. Perintah, anjuran, suruhan, dan kewajiban agama relevan dengan pemikiran manusia yang sehat dan normal. Demikian pula hal-hal yang menjadi larangan, bertentangan dengan akal sehat. Karena itu, orang yang tidak beragama, sama artinya dengan orang yang tidak memiliki akal pikiran yang sehat dan normal. Itulah sebabnya, seseorang yang tidak memiliki akal sehat, tidak muakllaf, sama dengan anak-anak atau bayi yang belum tahu dan bisa membedakan baik dan buruk, sebagai fungsi dari akalnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. 110 Kecerdasan dalam perspektif al-quran Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Quran, kata-kata yang memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas, yaitu al-Fathanah, adz-dzaka’, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan al-kayyis tidak digunakan oleh al-Quran. Definisi kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kat-kata yang digunakan oleh al-Qur’an dapat disimpulkan makna kecerdasan. Kata yang banyak digunakan oleh al-Quran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan kecerdasan, seperti kata yang seasal dengan kata al-aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam al-Quran dalam bentuk kata kerja, seperti kata ta’qilun. Para ahli tafsir, termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala ta’qilun “apakah kamu tidak menggunakan akalmu”. Dengan demikian kecerdasan menurut al-Qur’an diukur dengan penggunaan akal atau kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain. Kata-kata yang memiliki makna yang dekat mirip dengan kecerdasan yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah; Al–Aql, yang berarti an-Nuha kepandaian, kecerdasan. Akal memiliki makna menahan, karena memang akal dapat menahan kepada empunya dari melakukan hal yang dapat menghancurkan dirinya. Kata aql tidak pernah disebut sebagai nomina ism, tapi selalu dalam bentuk kata kerja fi’l. Di dalam al-Quran kata yang berasal dari kata aql berjumlah 49 kata, semuanya berbentuk fi’l mudhari’, hanya 1 yang berbentuk fi’l madhi. Dari banyaknya penggunaan kata-kata yang seasal dengan kata aql, dipahami bahwa al-qur’an sangat menghargai akal, dan bahkan Khithab Syar’i Khithab hukum Allah hanya ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata yang seasal dengan aql tidak berbentuk nomina ism tapi berbentuk kata kerja fi’l menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-qur’an mendorong dan menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sternberg yang dikutip oleh Agus Efendi, “Tes IQ sesungguhnya bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lain.” Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan. Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan majemuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata. 111 Bentuk dari kata aql yang dirangkaikan dalam sebuah kalimat pertanyaan, seperti afala ta’qilun apakah kamu tidak menggunakan akalmu terdapat 13 buah di dalam al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempertanyakan kecerdasan mereka, dengan akal yang sudah diberikan. Al-Lubb atau al-Labib, yang berarti al-aql atau al-aqil, dan al-labib sama dengan al-aql. Di dalam al-Quran Kata al-albab disebut 16 kali, dan kesemuanya didahului dengan kata ulu atau uli yang artinya pemilik, ulu al-albab berarti pemilik akal. Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah kecerdasan dan al-hujjah argumentasi. Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat hakikat sesuatu dari batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-aqilah an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah kecerdasan bepikir dan kekuatan suci atau ilahi. Abu Hilal al-Askari membedakan antara al-bashirah dan al-ilm ilmu, bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. Di dalam al-Quran, kata yang berasal dari kata al-bashar, dengan berbagai macam bentuk, jumlahnya cukup banyak, yaitu berjumah 142 kata, yang berbentuk kata al-bashir berjumlah 53 kata, hampir kesemuanya menjadi sifat Allah swt. kecuali 6 kata yang menjadi sifat manusia, 4 diantaranya kata al-bashir menjelaskan perbedaan antara manusia yang buta dan melihat. Sedangkan kata bashirah terdapat pada 2 ayat, yaitu pada surah Yusuf 108 dan al-qiyamah 14. sedangkan kata bashair yaitu bentuk jama’ dari bashirah disebut dalam al-Quran sebanyak 5 kali. Dalam menafsirkan kata bashirah yang ada pada surat Yusuf 108, al-Baghawi dan Sayyid Thanthawi menjelaskan ma’na al-bashirah adalah pengetahuan yang dengannya manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata al-abshar yaitu bentuk jama’ dari al-bashar berjumlah 8 ayat, 3 diantaranya didahului kata ulu mempunyai, ya’ni Surah Ali Imran 13, an-Nur 44, dan al-Hasyr 2. An-Nuha, maknanya sama dengan al-aql, dan akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan. Kata an-nuha di dalam al-Quran terdapat pada 2 tempat, keduanya ada pada Surat thaha ; 54, 128 dan keduanya diawali dengan kata uli pemilik. Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu. Di dalam al-Quran, Kata yang seasal dengan al-Fiqh terdapat pada 20 ayat, kesemuanya menggunakan kata kerja fi’l mudhari’, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan 112 pemahaman itu seharusnya dilakukan secara terus menerus. Kata al-fiqh juga berarti al-fithnah kecerdasan. Al-Fikr, yang artinya berpikir. Kata yang seakar dengan al-fikr terdapat pada 18 ayat. Kesemuanya berasal dari bentuk kata at-tafakkur, dan semuannya berbentuk kata kerja fi’l, hanya satu yang berbentuk kata fakkara, yaitu pada Surat al-Mudatstsir 18. Al-Jurjani mendefinisikan, at-tafakkur adalah pengerahan hati kepada makna sesuatu untuk menemukan sesuatu yang dicari, sebagai lentera hati yang dengannya dapat mengetahui kebaikan dan keburukan. An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak berpikir, Di dalam kamus Taj al-Arus disebutkan termasuk makna an-nazhar adalah menggunakan mata hati untuk menemukan segala sesuatu, an-nazhar juga berarti al-i’tibar mengambil pelajaran, at-taammul berpikir, al-bahts meneliti. Untuk membedakan antara an-nazhar dan al-Ru’yah, Abu Hilal al-Askari memberikan definisi bahwa al-nazhar adalah mencari petunjuk, juga berarti melihat dengan hati. Di dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan an-nazhar lebih dari 120 ayat At-tadabbur yang semakna dengan at-tafakkur, terdapat dalam al-Quran sebanyak 8 ayat. Al-Jurjani memberikan definisi at-tadabbur, adalah berpikir tentang akibat suatu perkara, sedangkan at-tafakkur adalah pengerahan hati untuk berpikir tentang dalil petunjuk. Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran. Dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah 285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dalam perspektif al-qur’an memiliki beberapa makna yang dekat dengan arti kecerdasan, diantaranya al-aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kecerdasan dalam perspektif hadits Dari pandangan manusia, kecerdasan selalu berurusan dengan dunia. Hal ini tentunya berbeda dengan cara pandang Rasulullah SAW yang menyebutkan kalau orang yang memiliki kecerdasan adalah mereka yang selalu mengingat tentang kematian. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA, yakni "Manusia yang paling utama adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Manusia yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat 113 kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang berakal." Penjelasan hadits tersebut adalah bagi mereka yang selalu mengingat kematian termasuk orang yang cerdas. Dikatakan cerdas karena mereka akan selalu memperbanyak amalan baik dan ibadah yang akan mengantarkan mereka ke surga. Disamping itu, mereka juga tidak hanya terpaku pada duniawi yang bersifat sementara. Bahkan, salah seorang sahabat Rasulullah SAW pun pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling cerdas ?" Rasulullah SAW menjawab "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas." HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsami. Dalam hadits lain Rasulullah SAW menjelaskan "Orang yang cerdas adalah yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang dungu adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan mengangankan kepada Allah berbagai angan-angan.". HR At-Tirmidzi. . . . . . ». . “Siapa diantara orang mukmin yang terbaik ya Rasulullah ? ” Beliau menjawab ”yang paling baik akhlaknya”. Lalu ditanya lagi,”siapa yang paling cerdas”. Beliau menjawab,” yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap mempersiapkan setelah kematian, mereka yang sangat cerdas”. HR Ibnu Majah . 114 Rasulullah SAW juga menjelaskan "Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang yang cerdas." HR. At-Tirmidzi. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dalam perspektif hadits adalah orang yang bisa menahan hawa nafsunya, paling banyak beramal untuk mengingat akan kematian dan paling siap dengan bekal setelah kematian. Fungsi Akal/Kecerdasan Dalam Pendidikan Islam Pendidikan merupakan “human investment” yang bisa dijadikan sebagai tatanan strategis untuk melahirkan generasi yang gemilang di masa mendatang. Pencaharian paradigma pendidikan Islam yang lebih baik akan menjadi tanggung jawab bersama terutama civitas akademika di era millenial sekarang ini. Peradaban masyarakat maju atau masyarakat madani civil society adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan sebagaimana tergambar pada masa kejayaan umat Islam sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat Islam terutama yang hendak mengambil kembali masa-masa kejayaan. Untuk mengambil kembali masa kegemilangan maupun kecemerlangan dalam sejarah kemajuan umat islam maka sudah barang tentu pendidikan merupakan jawaban satusatunya yang dapat membangunkan tidur bagi para pencinta kemajuan karena pada dasarnya Islam adalah agama kemajuan dan ilmu pengetahuan.” Dengan demikian pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada peran ganda baik sebagai tadhakkur dan tafakkur. Tadhakkur adalah bagian dari bagaimana pendidikan Islam dapat mengarahkan, merespons, menghargai serta mengkarakterisasi menuju kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan peran tafakkur dalam pendidikan Islam adalah sebagai sebuah alat kontrol bagaimana konsep tadhakkur berjalan sesuai dengan peran dan fungsinya. Hal ini menunjukkan bahwasannya peran pendidikan Islam sebagai sebuah paradigma tadhakkur harus senantiasa membumi dalam perilaku kehadupan sehari-hari.” Muhammad Mahfudz, 2006. Oleh karena itu pembentukan kepribadian menuju kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan maka harus senantiasa diarahkan pada nilai-nilai bawaan fitrah dengan mengacu pada konsep ta’alluq, takhalluq, dan tahakkuq. Ketiga konsep tersebut merupakan perpaduan di antara kecerdasan akal, hati, dan emosional. Keterpaduan dari ketiga pilar tersebut merupakan tangga untuk mencapai derajat tertinggi baik Akal Dalam Perspektif 15 Wasehudin 115 Pendidikan Islam Telaah Reflektif Filsafat Terhadap Ayat-Ayat Alquran dirinya sebagai hamba Allah abdullah maupun wakil Allah khalifatulah di muka bumi.” Ahmad Fadlali, 2009. Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Kesimp ula n Dari beberapa pemaparan yang telah disampaikan diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Pertama, Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk sempurna yang menjadi pembeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Kedua, Akal manusia merupaka karunia dari Allah SWT, yang digunakan untuk berfikir, mengerti, dapat memahami sesuatu, dari dalam diri manusia itu sendiri, sehingga manusia memiliki kesiapan untuk menyerap segala sesuatunya. Ketiga, Agama adalah masalah akal dan penggunaannya haruslah sesuai dengan ketentuan dan batasan yang telah ditetapkan serta tidak mengakibatkan berfikir secara mutlak dan absolut yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Keempat, Kecerdasan manusia digambarkan melalui kemampuan manusia itu sendiri yang dapat menahan hawa nafsunya, yang paling banyak beramal untuk mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Kelima, Dalam konteks kehidupan manusia saat ini, kecerdasan dimaksud diantaranya meliputi kecerdasan IQ Intellegence Quotient, EQ Emotional Quotient, dan SQ Spiritual Quotient serta bahkan ada kecerdasan lainnya sebagai bagian dari potensi seseorang yang harus selalu diasah dan dikembangkan. Keenam, Fungi akal yang barengi dengan kecerdasan yang baik dalam pendidikan Islam, dengan konsep tadhakkur, tadabbur, tafakkur serta memiliki ilmu pengetahuan dan keimanan, memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan Islam yang berkualitas. Daftar Pusta ka Agus Nggermanto, Quantum Quotient Kecerdasan Quantum Bandung Nuansa, 2005. Ahmad Fadlali, Fitrah Akliyah Dalam Pendidikan Islam, Forum Tarbiyah Vol. 7 no. 2 Desember 2009. Ahmad Heriyanto, Hubungan Kecerdasan Emosional Dalam Meningkatkan Hafalan AlQur’an Surat An Naba’ Santri Kelas I A Madrasah Aliyah Palembang Skripsi, 2017. Akhmad Muhaimin Azzed, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak, Jogjakarta Ar-Ruzz Media, 2014. 116 Akhmeda Farkhaeni, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Konsep Diri Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta Jakarta Skripsi, 2011. Arisha Yonna Tanu, Ikhlas Menurut Islam, Dalam Http//Apa Yang Dimaksud Dengan Ikhlas Menurut Para Ahli// Diakses Pada 12 Mei 2018 Pukul Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan Spiritual ; Esq Jakarta Arga 2002. Ary Ginanjar Agustian, Esq Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, Jakarta Arga, 2004. Ary Ginanjar Agustian, Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam, Jakarta Arga, 2005. A. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya Pustaka progressif, 1997. Dakir Dan Sardimi, Pendidikan Islam Dan Esq Komparasiintregatif Upaya Menuju Stadium Insan Kamil, Semarang Rasail Media Group, 2011. Dana Frasetya, Hubungan Antara Tingkat Kecerdasan Intelektual Dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dengan Prestasi Belajar Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Siswa Kelasvii Di Smp Negeri 4 Gamping Tahun Pelajaran 2014/2015, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 2015. Danah Zohar Dan Ian Marshall, Sq Kecerdasan Spiritual, Bandung Pt Mizan Pustaka, 2007. Daniel Goleman, Working With Emotional Inteligence, Terj. Alex Tri Kantjono Widodo, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2005. Daniel Goleman, Emosional Intelegence Mengapa Eq Lebih Penting Dari Pada Iq Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2007. Darudijo Rommel Jachja, Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Spiritual Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Karyawan Studi Di Pt. Multiguna International Persada. Daryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya Apollo, 2006. Febri Sulistiya, Pengaruh Tingkat Kecerdasan Intelektual Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan Pada Siswa Di Smpn 15 Yogyakarta, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, 2016. Hairul Anam Dkk, Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Spiritual Dan Kecerdasan Sosial Terhadap Pemahaman Akuntansi, Balikpapan Jurnal Sains Terapan. Harun Nasution, Muhammad Abduh, Baca pula Muhammad Abduh, Risalah al-Tawhid, Kairo Dar al-Manar, 1993. Imam al-Ghazali. Mukhtashar Ihya Ulumuddin Jakarta Pustaka Amani, 1986. 117 Imam al-Ghazali, Ilmu dalam Perspektif Tasawuf al-Ghazali, terj. Muhammad a-Baqir, Bandung karisma, 1996. Intan Purwasih, Pengaruh Intensitas Menghafal Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Salatiga Skripsi, 2011. Makmun Mubayidh, Ad-Dzaka’ Al Athifi Wa Ash Shihah Al Athifiyah, Terj. Muhammad Muhson Anasy, Kecerdasan & Kesehatan Emosional Anak, Jakarta Pustaka Al-Kautsar, 2006. Mimi Doe & Marsha Walch, 10 Prinsip Spiritual Parenting Bagaimana Menumbuhkan Dan Merawat Sukma Anak Anda. Bandung Kaifa, 2001. M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur`an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta Paramadina, 2002. Muhammad Mahfudz, Peran Akal Dalam Surat Ali Imran Ayat 190-191 dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2006. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur`an, Bandung Mizan, 2005. Nash Hamid Abu Zaid, Menalar Firman Tuhan, Wacana Majaz dalam al-Qur`an Menurut Mu`tazilah, terj. Abdurrahman Kasdi dan Hamka Hasan, Bandung Mizan, 2003. Prima Vidya Asteria, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Melalui Pembelajaran Membaca Sastra, Malang Ub Press, 2014. Rabi’ bin Hadi “Umar Al-Madkhaly, Cara Para Nabi Berdakwah, terj. Muhtarudin Abrari, Tegal Maktabah Salafy Press, 2002. Rustam Hanafi, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional Dan Performa Auditor, Semarang Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Rus’an, Spiritual Quotient Sq The Ultimate Intelligence, Palu Jurnal Lentera Pendidikan, Vol. 16 2013. Siti A. Toyibah Dkk, Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Penghafal Alquran, Bandung Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017. Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa Sq Lebih Penting Dari Pada Iq Dan Eq. Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2004. Steven S. Stein Dan Howard, The Edge Emotional And Your Succes, Terj. Trinada Rainy Ledakan Eq 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, Bandung Kaifa, 2003. Syamsu Yusuf Dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan Dan Konseling, Bandung Pt Remaja Rosdakarya, 2010. Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III, Jakarta Balai Pustaka, 2005. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 1, Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005. Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah Transendenta Intelegensi Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab Profesional Dan Berakhlak, Jakarta Insani, 2001. Triantoro Safaria, Spiritual Intellegence Metode Pengembangan Kecerdasan Spiritual Anak, Jakarta Graha Ilmu, 2007. 118 Triantoro Safaria Dkk, Managemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda, Jakarta Bumi Aksara, 2012. W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi III Jakarta Balai Pustaka, 2007. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan SpiritualTanu Arisha YonnaArisha Yonna Tanu, Ikhlas Menurut Islam, Dalam Http//Apa Yang Dimaksud Dengan Ikhlas Menurut Para Ahli// Diakses Pada 12 Mei 2018 Pukul Wib Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan Spiritual ; Esq Jakarta Arga 2002.Ary Ginanjar AgustianAry Ginanjar Agustian, Esq Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, Jakarta Arga, 2004.Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun IslamAry Ginanjar AgustianAry Ginanjar Agustian, Esq The Esq Way 165 Berdasarkan 1 Ihsan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam, Jakarta Arga, 2005.A W MunawwirA. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya Pustaka progressif, 1997.Dan DakirSardimiDakir Dan Sardimi, Pendidikan Islam Dan Esq Komparasiintregatif Upaya Menuju Stadium Insan Kamil, Semarang Rasail Media Group, 2011.Danah Zohar Dan Ian MarshallDanah Zohar Dan Ian Marshall, Sq Kecerdasan Spiritual, Bandung Pt Mizan Pustaka, 2007.Working With Emotional InteligenceDaniel GolemanDaniel Goleman, Working With Emotional Inteligence, Terj. Alex Tri Kantjono Widodo, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi Jakarta Pt Gramedia Pustaka Utama, 2005.DaryantoDaryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya Apollo, 2006.Dawam RahardjoM. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur`an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta Paramadina, 2002.
Pendidikan kecerdasan spiritual Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 6-10 - Walisongo Repository URGENSI KECERDASAN SPIRITUAL – Pesantren Wirausaha SMPIT-SMAIT NURUL ISLAM SIDOARJO Agar Pikiran Makin Tajam, Ini 5 Amalan dalam Agama Islam yang Bisa Mencerdaskan PERPUS TAKA AN Cara Menghafal Al Qur’an Menggunakan Otak Kanan KECERDASAN DALAM PANDANGAN AL-QU’RAN KORELASI PEMAHAMAN AL-QUR AN DENGAN KECERDASAN SISWA KELAS XI PUTERI DI MADRASAH ALIYAH AR-RISALAH KECAMATAN KOTO TANGAH PADANG SKRIPSI - PDF Free Download Pendidikan kecerdasan spiritual Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 6-10 - Walisongo Repository 1 ABSTRAK Tulisan ini berjudul “Peran Orang Tua dalam Membina Kecerdasan Spiritual Anak usia 3-14 Tahun”. Kecerdasan spiritu Pendidikan kecerdasan spiritual dalam Al-qur’an surat Al-Muzzammil ayat 1-8 kajian tafsir tahlili - Walisongo Repository Skripsi membina kecerdasan spritual anak DOC Kecerdasan dalam pandangan Al-Qur’an Khaerisa Affiani - Kecerdasan Manusia dan Dalil untuk Menyikapi Informasi -Fakultas Syariah Pendidikan kecerdasan spiritual Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 6-10 - Walisongo Repository MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK DENGAN MEMBACA AL-QUR’AN SETELAH MAGHRIB & SUBUH - Tafsir Tarbawi Tinjauan Al-Quran Tentang Term Kecerdasan Luk luk nur mufidah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual iesq dal by at-Tajdid - issuu suara Hati - surah al alaq sebagai sarana pencerdas otak - YouTube Luk luk nur mufidah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual iesq dal by at-Tajdid - issuu KECERDASAN EMOSIONAL DALAM AL-QUR’AN 1Stephani Raihana Hamdan Abstrak Abstract Pendahuluan Semenjak Nabi Muhammad SAW menerim Baca Al-Qur’an Sesudah Maghrib dan Subuh Biasa Tingkatkan Kecerdasan Otak Hingga 80% AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN HADIST TENTANG PENDIDIKAN kuro ari - Surat Al-Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak MULTIPLE INTELLIGENCE DALAM PEMBELAJARAN PAI AL-QUR`AN HADITS SD/MI by Jurnal Auladuna INAIFAS - issuu PDF Optimasi Kecerdasan Majemuk Sebagai Metode Menghafal Al-Qur’an Studi atas buku “Metode Ilham Menghafal al-Qur’an serasa Bermain Game” karya Lukman Hakim dan Ali Khosim PDF Lokus Kecerdasan Spiritual dalam Perspektif Al-Qur’an Jurnal SUHUF - Skripsi membina kecerdasan spritual anak PDF Pengaruh kebiasaan Tadabbur Al-Quran terhadap kecerdasan spiritual anggota Komunitas Tadabbur Quran" to Jurnal Psikologi Islam HALLO SOBAT PPQ Dah lama tak… - Pemuda Peduli Qur’an Facebook Tafsir ayat-ayat Al-Quran tentang Pendidikan - Coretanzone KORELASI PEMAHAMAN AL-QUR AN DENGAN KECERDASAN SISWA KELAS XI PUTERI DI MADRASAH ALIYAH AR-RISALAH KECAMATAN KOTO TANGAH PADANG SKRIPSI - PDF Free Download DOC KECERDASAN BUATAN MANUSIA mas zee - Top PDF Aspek-Aspek Kecerdasan Spiritual dan Emosional dalam Al-Qur’an Telaah Surah Luqman Ayat 12-19 - Muslim STKIP Surya - Dahsyat, Baca al-Quran Bikin Otak Cerdas Dalam artikel Tip menambah daya ingat dan kecerdasan, pernah saya sebutkan bahwa membaca al-quran dapat meningkatkan daya ingat. Hanya saat itu saya Rahasia Orang Yahudi Pintar - Tau Nggak Sih Baca Al-Qur’an Sesudah Maghrib dan Subuh Biasa Tingkatkan Kecerdasan Otak Hingga 80% INTELIGENSI Materi presentasi Psikologi Pendidikan Oleh - ppt download Manfaat Membaca Al Qur’an untuk Kecerdasan Otak Manusia Termaktub dalam Al-Quran, Kecerdasan Burung Gagak Ajari Manusia – Jabatan Integriti Dan Pematuhan Standard KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES PERSPEKTIF AL QURAN/ HADIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI SKRIPSI Diajukan kepada Faku Menghafal Al-Qur’an menggunakan “Mesin Kecerdasan” Anda – Larasindo Peleburan Ayat-ayat Alquran sebagai Syariat Ataukah Tradisi?, “Aspirasi Keagamaan Islam Indonesia” Halaman 1 - Al-Qur’an Sandi Kecerdasan - Al Mawardi Prima Menghafal Alquran Bisa Tingkatkan Kecerdasan, Benarkah? - Islampos Kumpulan Segala Artikel Optimalkan Kecerdasan Dengan Al Qur’an Princess babyshop - Moms pasti sudah sering mendengar anjuran untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an saat hamil. Ya, selain memiliki banyak manfaat untuk sang ibu, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pun bisa meningkatkan kecerdasan emosi √ Ayat Alquran Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu - Pengertian Ilmu Orang Dengan Kecerdasan Lemah, Mungkinkah Bisa Menghafal Al-Qur’an? - Islampos Pengaruh kebiasaan Tadabbur Alquran terhadap kecerdasan spiritual anggota Komunitas Tadabbur Quran Jurnal Psikologi Islam Pendidikan Kecerdasan Spiritual dalam Al-Qur’an Surat Al-Luqman 27 Manfaat Menghafal Al-Qur’an bagi Kecerdasan dan Kesehatan Yayasan Asy Syaamil Bontang Inilah Rahasia Kecerdasan Surah Yaasiin Republika Online Tahukah Anda Ternyata Membaca Al Qur An Setelah Maghrib Subuh Meningkatkan Kecerdasan Otak Sampai 80 Kongsikan Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual IESQ dalam Perspektif Al-Qur’an Jurnal Pendidikan Islam Antara Al-Qur’an Dan Kecerdasan Intelektual - Islampos Pengaruh menghafal Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional penelitian terhadap mahasiswi rumah Al-Qur’an UIN Sunan Gunung Djati Bandung - Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mendengarkan Al Qur’an dapat Meningkatkan Kecerdasan Bayi RIZKI ABDILLAH Sukses Hafal Alquran Bukan Kecerdasan, Tapi Ini Kuncinya Republika Online Keunggulan Tahfidz Al-Qur’an Bagi Kecerdasan Anak بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ The Modern Science Membuktikan Bahwa Membaca Al Qur’an Berpengaruh Pada Kesehatan Tubuh Dan Meningkatkan Kecerdasan Bayi Kecerdasan Intelektual Dalam Islam Belajar Konsep dari Nabi Muhammad Membaca Al-Quran Dapat Meningkatkan Kecerdasan Otak Rahasia Kecerdasan Melalui Al-Qur’an - Fadhilah Kecerdasan dari Membaca Al-Qur’an Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep 10 Manfaat Membaca Al-Quran yang Dapat Merubah Hidup di Dunia dan Akhirat - SEKOLAH PRESTASI GLOBAL Membaca Surat Az-Zariyat, Profesor Matematika Jadi Mualaf - Ayo Bogor TARTIL ALQURAN - Untuk Kecerdasan dan Kesehatanmu - Pengaruh Irama Bacaan Alquran Untuk Shopee Indonesia 10 Manfaat Dan Keutamaan Menulis Ayat-ayat Al Quran Pondok Islami - Menebar Berkah Berbagi Manfaat HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DALAM MENINGKATKAN HAFALAN AL-QURAN SURAT AN-NABA' SANTRI KELAS I A MADRASAH ALIYAH PONDOK PESAN SKRIPSI SARJANA SI Oleh LUSIANA CHARLI FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG kecerdasan menurut al-Qur’an arhan65 Tahfizh Al-Qur’an dan Kecerdasan Anak - Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Ciledug ELEMEN-ELEMEN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM AL-QUR’AN Telaah Terhadap Surat al-Muzzammil Ayat 1-10 dan 20 SKRIPSI Diajukan Kepa Ayat dan Hadits tentang Menuntut Ilmu - ppt download BukuTausiyahCinta sur Twitter “Manfaat memperdengarkan Al-Qur’an untuk Janin . 💠Mampu menenangkan janin . Penelitian lebih lanjut, janin berusia 48 minggu bisa memberikan respon senyuman ketika diperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran Cita-cita Jadi Hafidz, Bocah Ini Lantunkan Ayat Al-Quran saat Kondisi Kritis MEMBACA AL-QUR’AN SETELAH MAGHRIB & SUBUH, MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK HINGGA 80% - Rumah Quran Ihya Ul Ummah Al Quran Andi Hasad Top PDF Makna Simbolik Ayat-Ayat tentang Kiamat dan Kebangkitan dalam Al-Qur’an - xv PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL MELALUI AKTIVITAS MENGHAFAL ALQUR’AN SANTRI KELAS TAHFIDZ DIPESANTREN MODERN DATOK SULAIM MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK DENGAN MEMBACA AL-QUR’AN Dakwah Islami SIT Nurul Fajri Membaca Al-Qur’an setelah magrib dan subuh tingkatkan kecerdasan otak hingga 80 persen ELEMEN-ELEMEN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM AL-QUR’AN Telaah Terhadap Surat al-Muzzammil Ayat 1-10 dan 20 SKRIPSI Diajukan Kepa Fakta bahwa Alquran dapat merangsang IQ Anak ~ TKIT RAFLESIA Bahagia dengan Al-Qur’an Iman dan Kecerdasan Universitas Muhammadiyah Metro Doa Ayat Kursi untuk Meningkatkan Kecerdasan dan Mempermudah Proses Belajar Penerapan smk3 & ergonomi dalam pandangan islam PDF KECERDASAN INTRAPERSONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBERHASILAN SANTRI MAHASISWA DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN Besarnya Pengaruh Al-Qur’an Terhadap Otak - Islampos Tafsir Tarbawi Tinjauan Al-Quran Tentang Term Kecerdasan xv PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL MELALUI AKTIVITAS MENGHAFAL ALQUR’AN SANTRI KELAS TAHFIDZ DIPESANTREN MODERN DATOK SULAIM Membaca Al-Qur’an mempengaruhi kecerdasan IQ,EQ dan SQ ? - Leading Alquran Learning Institution in Indonesia Tingkatkan Kecerdasan Anak Bisa Coba Bacakan Surah Al-quran saat dalam Kandungan Okezone Lifestyle 7 Manfaat Membaca Alquran saat Hamil, Tambah Berkah! Pengaruh Program Pembiasaan Tadarus Al Quran terhadap Kecerdasan Emosional siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya Sudahkan Institusi Pendidikan Kita Mendidik Kecerdasan Spritual Siswa? – Pengurus Besar Alumni Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya PENGARUH MENGHAFAL AL-QUR’AN TERHADAP KECERDASAN KOGNITIF SISWA MADRASAH ALIYAH PONDOK PESANTREN NAHDLATUL ULUM SOREANG MAROS Kecerdasan spiritual menurut Sa’id Ḥawwa dalam Kitab al-Asās fi al-Tafsīr - Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung Manfaat Membaca Al-Qur’an Bagi Kecerdasan - Pemuda 313 Manfaat Mendengarkan Murottal Al Qur’an Untuk Ibu Hamil Lengkap dengan Artinya, Ini Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Pendidikan
Perihal kecerdasan, merupakan salah satu potensi dasar yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia. Itu tercermin dalam QS. al-Tiin ayat 4 yang tersirat bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Dalam artian, baik secara jasmani dan ruhani. Indikator lain yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna adalah pemberian mandat kekhalifahan di muka bumi. Allah memberikan mandat kepada manusia untuk memelihara dan mengkoordinir segala urusan di bumi bukan tanpa sebab. Melainkan karena Allah menyematkan potensi agung yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, termasuk malaikat. Al-Qur’an sebagai kitab dan tuntunan hidup paripurna bagi umat Islam, memberikan ruang mengenai varietas kecerdsan yang dimiliki manusia. Secara redaksional, Al-Qur’an membahasakan kemampuan berpikir manusia secara distingtif. Setidaknya terdapat 5 term dalam Al-Qur’an yang mengurai mengenai kecerdasan. Di antaranya, ta’aqqul, tafakkur, tadabbur, tafaqquh, dan tadzakkur. Apakah kelima term tersebut mencakup klasifikasi kecerdasan yang ditemukan Sains? Mari kita simak… Memahami IQ, EQ, dan SQ Kompleksitas konstruksional tersusun dalam eksistensi manusia. Kecerdasan, yang tersimbolisasi dari kemampuan berpikir manusia adalah salah satu anugerah yang terbaik se-jagat raya. Faktornya, kecerdasan bukanlah merupakan variabel tunggal yang tidak memuat varietas lainnya. Saintifikasi manusia telah menyajikan ragam jenis kecerdasan yang memenuhi eksistensi manusia secara eksklusif. Diantaranya adalah Intellegent Quotient, Emotional Quetiont, dan Spiritual Quetiont. IQ Intellegent Quotient Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kcerdasan intelegensi. Konsep IQ pertama kali diperkenalkan oleh Willian Stern. Seorang psikolog berkelahiran Jerman dalam bukunya The Psychological Methods of Testing Intelligence. Intelegensi merupakan suatu kemampuan berpikir yang primer. Cakupannya adalah kemampuan berbahasa, mengingat, rasio, matematis, dan persepsif. Intellegent Quotient menjai instrument penting bagi seseorang dalam kemampuan menyerap nilai dari satu pelajaran. Intan Fazrin, Mengembangkan Intelegensi Quotient pada anak, 36. 2. EQ Emotional Quetiont Emotional Quetiont atau kecerdasan emosional memberikan dominasi yang besar terhadap self-controlling. DanielGoleman, psikolog California yang memprakarsai kajian Emotional Quetiont, secara spekulatif menerangkan bahwa EQ merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan, memotivasi, dan memosisikan diri dalam keadaan yang tepat. Selain itu, Emotional Quetiont juga merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif bertindak untuk menghadapi seluruh aspek kehidupannya. Al. Tridhonanti, Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional, 100. 3. SQ Spiritual Quotient Awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar dalam ranah intelektual. Setelah itu Daniel Goleman memumunculkan gagasan EQ-nya pada tahun 1900-an, sebagai bentuk respo atas lahirnya gagasan IQ. Sedangkan pada akhir abad 20-an, Danah Zohar dan Ian Marshal mempresentasikan varietas kecerdasan baru, yaitu Spiritual Quotient. Yang merupakan kemampuan jiwa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan sisi positif dan mampu memberikan makna spiritual dalam setiap perbuatan. Secara orientatif, kecerdasan spiritual mengarahkan seseorang menuju puncak kesadaran jati dirinya sebagai manusia Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ Kecerdasan Spiritual, 3. Intelegent Quetiont dalam Tinjauan Al-Qur’an Dalam al-Qur’an termuat varietas terma tentang memperdayakan akal. Konteks intelegensi dalam ranah keberfikiran yang disimbolisasi dengan kemampuan menyerap pelajaran serta memberikan ulasannya. Selain itu, terdapat juga indikasi kemampuan logis dan scientic dalam konteks intelegensi. Term ta’aqqul dalam Al-Qur’an memberikan implikasi tentang pengoptimalan daya pikir intelektual. Oemar Hamalik, dalam bukunya Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, menyebutkan bahwa ta’aqqul merupakan sistemasi berpikir logis yang memiliki kapabilitas dalam penguasaan materi serta memberikan penjelasannya. Term ta’aqqul, salah satunyatermaktub dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah 242, Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, 121. كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ Emotional Quetiont dalam Tinjuan Al-Qur’an Emotional Quetiont erat kaitannya dengan self-control. Selain itu juga memiliki kepekaan sosial tinggi sehingga mampu mengimplementasikan tindakannya secara kolektif. Hal tersebut sesuai dengan term dalam Al-Qur’an yang mengindikasikan kemampuan kognitif manusia atau kemampuan dalam ranah psikologis, yaitu tafakkur atau al-Fikr. Aspek kejiwaan yang tercakup dalam term al-Fikr yaitu aspek afektif rasa, dan psikomotoris karsa. Pada dasarnya, fungsi kognitif pada manusia ini menjadi penggerak serta pengontrol tindakan manusia. Kemampuan mengntrol diri ini menjadik diferensiasi antara manusia dan hewan. Secara lahiriah, hewan tidak memiliki keampuan kognitif untuk mengontrol dirinya, ehingga bisa dikatakan hewan tidak memiliki emotional quetiont sebagaimana yang dimiliki oleh manusia Yusuf Qardawi, al-Aql Wa al-Ilm fi al-Qur’an al-Karim, 41. Lafadz tafakkur dalam Al-Qur’an termaktub dalam QS. al-Hasyr ayat 21 لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ Artinya “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” Selain tafakkur, indikasi lain yang memuat aspek-aspek emotional dalam terma keberfikiran adalah lafad tadabbur, yang terdapat dalam QS. al-Nisa’ ayat 82, اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا Artinya “Maka tidakkah mereka menghayati mendalami Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Altlah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” Dalam Tafsir al-Misbah, karya M. Quraish Shibah, dijelaskan bahwa untuk memahami al-Qur’an butuh perhatian yang besar sehingga tidak terjermbap dalam kesalahan pemahaman. Bisa disimpulkan bahwa tadabbur disini memuat kemampuan mempelajari dengan cermat dan teliti. Seseoang yang cermat memiliki kemampuan yang bertahap, yaitu receiving, responding, valuing, organizing, dan characterizing. Kelima tahapan diatas, merupakan indicator utama dalam pembentukan karakter seseorang Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, 54-57. Spiritual Quotient dalam Al-Qur’an Kecerdasan spiritual, sebagaimana diterangkan di atas, bertendensi kepada pemahaman keagamaan. Dalam artian, seseorang mampu bertindak dengan latar belakang pemahaman keagamaan. Dalam AL-Qur’an, terdapat 2 term yang mengindikasikan nilai-nilai spiritualitas, yakni tafaqquh dan tadzakkur. Tafaqquh berasal dari kata al-fiqhu yang dimaknai oleh Al-Raghib al-Ashfahani sebagai upaya mengetahui yang abstrak dengan pengetahuan yang konkret. Dalam satu literature terdapat suatu pengistilahan, “Tiap-tiap sesuatu itu memiliki tiang, dan tiang agama islam adalah al-Fiqhu”. Secara garis besar, upaya untuk memahami Islam, diupayaka dengan proses tafaqquh di dalamnya M. Dhuha Abdul Jabar dan N. Burhanuddin, Ensiklpoedi Makna Al-Qur’an, 513. Sedangkan tadzakkur, terbentuk dari kata dzkir, yang artinya mengingat. Said bin Jubair, mengartikan dzikr dengan ketaatan kepada Tuhan sehingga selalu mengingat-Nya. Hamka juga menambahkan bahwa kemampuan tadzakkur merupakan kemampuan mengingat terhadap materi dengan berlandaskan keimanan. Agus Nur Qowim, Tinjauan Al-Qur’an Tentang Term Kecerdasan, 130. Kesimpulan al-Qur’an shaalihun li kulli zaman wa makaan. Mungkin kalimat tersebut yang sesuai untuk menutup tulisan ini. Faktornya, al-Qur’an selalu memberikan gambaran-gambaran autentik dan relevan dengan temuan-temuan ilmiah yang terbaru. Penyunting Ahmed Zaranggi
Manusia merupakan makhluk yang paling cerdas dari makhluk yang lain di bumi ini. Tak satu pun dari spesies dan genus yang ada di bumi menyamai kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Kecerdasan sendiri merupakan sesuatu yang harus disyukuri oleh manusia dan dimanfaatkan dengan baik serta benar. Karena kecerdasan adalah salah satu wujud dari anugerah Allah yang sangat berharga, yang diberikan kepada hambanya. Dan kecerdasan tertinggi adalah kecerdasan spiritual, karena kecerdasan spiritual mampu menjembatani antara kecerdasan intelektual dan juga kecerdasan emosional. Sehingga dalam tulisan ini akan dibahas lebih mendalam mengenai kecerdasan spiritual. Potensi Kecerdasan Manusia Ketika manusia lahir ia telah dianugerahi oleh Allah SAW berbagai instrumen untuk menjalani dan mengembangkan kehidupannya di bumi ini. Seperti instink gharizah, indra, akal kecerdasan dan nurani kalbu. Tetapi ia belum memiliki pengetahuan apa-apa dalam arti kognitif, kecuali potensi-potensi yang siap diaktualisasikan dengan instrumen tersebut. Dan dengan potensi-potensi itu manusia mampu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan personal, sosial maupun lingkungan alam. Pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia di awal kehidupannya adalah sama, semua bermula dari nol. Dan dengan alat indra yang diberikan oleh Allah sebagai wujud dari salah satu anugerahnya manusia dapat menyerap serta menerima informasi yang didapatkan dari alat indra tersebut. Yang kemudian informasi itu diaktualisasikan ke dalam memorinya sehingga menjadi sebuah pengetahuan yang digunakan oleh manusia dalam kehidupannya. Sebagaimana firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 78, dengan beberapa penafsiran para mufasir. وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّجَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصٰرَ وَالْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 78 Artinya “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” QS. An-Nahl 16 Ayat 78 Penafsiran Ayat Pada Tafsir Adwa’ al-Bayan fi Idah Al-Qur’an bil-Qur’an dijelaskan bahwa Allah mengeluarkan anak-anak Adam dari perut ibu mereka yang tidak tahu apa-apa. Dan Allah menjadikan bagi mereka telinga, mata, dan hati. Supaya mereka bersyukur atas berkahnya. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak bersyukur. Sedangkan dalam Tafsir al-Kabir juga dijelaskan bahwa jiwa manusia ada dalam prinsip penciptaan tanpa semua ilmu atau tanpa mengetaui pengetahuan apapun, kecuali Allah menciptakan pendengaran dan penglihatan. Dan kemunculan indra ini menjadi alasan bagi jiwa manusia, untuk berpindah dari ketidaktahuan ke pengetahuan. Allah menciptakan pendengaran untuk manusia supaya manusia dapat mendengarkan nasihat Allah, penglihatan untuk melihat tanda-tanda Allah, dan hati sebagai pengetahuan yang sejati. Pada ayat tersebut Sya’rawi juga menafsirkan bahwa pendengaran disebutkan terlebih dahulu setelah itu baru penglihatan dan pemahaman. Karena diawal kehidupan manusia pada saat persalinan, indra pendengaranlah yang paling pertama berfungsi. Kemudian setelah sekitar sepuluh hari barulah menyusul penglihatan. Dan dari penginderaan diperoleh sebuah informasi pengetahuan yang tersusun dalam memori yang dikenal dengan pemahaman Transformasi Ilmu Pengetahuan Indra-indra tersebutlah yang menjadi penyumbang terbesar dalam transformasi ilmu pengetahuan. Mata dan telinga mempunyai peran paling besar dalam mengantarkan informasi ke dalam memori manusia, sehingga dapat menjadi serangkaian pengetahuan. Melalui sensasi penginderaan, persepsi, dan berpikir manusia memiliki pengalaman dan pengetahuan yang digunakan untuk mengambil keputusan dan mengatasi persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi itu sudah dibawa sejak lahir. Adanya jaringan otak di dalam kepala, berbagai instrumen Indra, dan seluruh perangkatnya telah diciptakan Allah sejak di dalam rahim ibu. Meskipun pada saat itu belum fungsional, dan jaringan otak merupakan instrumen yang paling dominan dalam pembentukan kecerdasan. Maka fungsionalisasi dari instrumen itu disebut sebagi akal. Kecerdasan intelektual memang menentukan keberhasilan seseorang. Akan tetapi, sebenarnya ada kecerdasan lain yang lebih penting yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh manusia. Kecerdasan spiritual pertama kali digagas oleh Zohar dan Marshal. Mereka mengemukakan hasil riset dari para ahli psikologi maupun saraf mengenai eksistensi titik Tuhan’ yang dikenal dengan istilah God Spot. God Spot merupakan pusat spiritual yang terletak di bagian depan otak manusia, sehingga setiap manusia sudah pasti memilikinya. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia dalam melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran sesuai dengan nilai-nilai arif yang telah dituntunkan oleh Allah. Sehingga manusia dapat memaknai hidupnya serta mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya. Kecerdasan spiritual berkaitan erat dengan kejiwaan manusia dan agama juga sangat erat hubungannya dengan kejiwaan manusia. Sehingga jika pemeluk agama yang taat mampu dalam memaknai kehidupannya, dengan itu jiwanya akan merasakan sebuah kebahagiaan. Dan orang yang jiwanya merasakan sebuah kebahagiaan maka ia dikatakan sebagai orang yang memiliki kecerdasan spiritual. Dalam sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli di bidang Neurologi ilmu tentang saraf bahwa kecerdasan spiritual mempunyai tempat di dalam otak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di dalam otak manusia terdapat bagian yang mampu mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, dalam mengenal serta berhubungan dengan Allah. Nabi Muhammad mengatakan bahwa setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dan sebagian ulama memaknai fitrah sebagai kecenderungan untuk bertauhid. Maka dapat dipahami bahwa memang sudah dari sananya dalam diri manusia di desain oleh Allah untuk mengenalnya, fitrah untuk mengenal Allah tidak dapat diingkari. Kecerdasan Spiritual Kecerdasan spiritual mempunyai peran yang sangat penting karena kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang tertinggi dari kecerdasan-kecerdasan yang lain. Sehingga dikatakan sebagai kecerdasan yang tertinggi. Karena kecerdasan ini dapat mewujudkan kedamaian hakiki, mengajak manusia memaknai hidup. Kemudian meraih kebahagiaan sejati yang membuat jiwa dan hati manusia menjadi bahagia, tenteram dan penuh dengan kedamaian. Peran penting dari kecerdasan spiritual yaitu mampu mengungkap segi parenial yang abadi, spiritual, dan yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia. Juga dapat membimbing manusia dalam memperoleh kedamaian dan juga kebahagiaan spiritual yang hakiki dalam kehidupan ini, dan kecerdasan spiritual juga dapat menyentuh segi spiritual karena menyajikan beragam pengalaman spiritual. Penyunting Ahmed Zaranggi
TANYA Benarkah Jika seseorang menghafalkan Alquran a bisa menjadikannya semakin cerdas dan pandai? an apabila jawabannya “tidak”, bagaimana cara agar semakin cerdas di sela–sela belajar dan memelajari hal–hal tentang syariat Islam yang bersumber dari Alquran? JAWAB Menumbuhkan kepandaian bagi manusia merupakan salah satu spesialisasi keilmuan dan pembelajaran kejiwaan yang dilakukan di setiap perguruan tinggi, universitas, lembaga-lembaga pendidikan dan pusat-pusat penelitian. Memiliki kecerdasan yang tinggi merupakan cita-cita bersama bagi kebanyakan para ilmuwan dan peneliti, yang mereka mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk melakukan studi intensif dan penelitian khusus untuk kemajuan hidup manusia. BACA JUGA Baru Berusia 4 Tahun, Noor Makki Hafal Quran beserta Nomor dan Posisi Ayatnya Adapun anggapan hubungan menghafal Alquran dengan bertambahnya kecerdasan bagi penghafal Alquran haruslah disandarkan kepada penelitian ilmiah dan studi intensif yang akurat, yang ujicobanya diberlakukan pada sasaran tertentu dari salah satu mahasiswa tahfizul Quran, lalu dilakukan pemeriksaan tingkat kepandaiannya sebelum dan sesudah menghafal Alquran. Dan yang tentu saja tingkat ketelitiannya sesuai dengan standarisasi tingkat dunia, kemudian dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki kesibukan menghafal Alquran dengan memperhatikan perbedaan umur dan jenjang pendidikan, lalu hasil dari itu semua merupakan sebuah keputusan yang autentik. Sehingga tatkala kita berbincang dengan banyak kalangan maka perbincangan itu bukan hanya anggapan belaka namun berdasarkan bukti penelitian yang nyata dan jelas, dan kita tidak mengambil hukum berdasarkan sentimentil perasaan. Kita pun juga sudah mendengar bahwa di Al Azhar As Syarif mengadakan penelitian khusus terhadap perkara ini namun sampai sekarang belum ada hasil dan keputusan yang bisa kita jadikan sabagai bahan acuan. Akan tetapi cukuplah bagi kita di sini untuk mengungkapkan bahwasannya menghafal Alquran dan membacanya merupakan sebab terbesar terhadap kejernihan dan kesucian hati dan juga sebab terbesar bagi keberkahan seorang hamba, dan di sini kita bisa mengambil isyarat dari beberapa ketentuan- ketentuan berikut Pertama; Menghafal Alquran merupakan cahaya dari Allah Ta’ala yang ditanamkan kedalam hati hambanya, dan cukuplah apa yang dikabarkan dari Nab SAW “Bahwasannya pembaca Al Qur’an bagaikan buah limau yang rasanya lezat dan juga harum baunya” HR Bukhari dan Muslim dan dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ رواه الترمذي 2913 وقال حسن صحيح . وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “ “Sesungguhnya seseorang yang didalam hatinya kosong dari Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang roboh atau runtuh “ HR Turmudzi dan ia mengatakan Hadits Hasan Shahih. Dan di Shahihkan oleh Albani dalam “Shahih at Turmudzi” BACA JUGA 10 Keutamaan Penghafal Quran Kedua; Menghafal Alquran merupakan sarana untuk tadabbur, berfikir dan berangan-angan tentang Alquran, dan ia merupakan cara terpenting dalam memperoleh pemahaman agama, serta menjadi cerdas dan peka akan hal–hal yang diridhai lalu kemudian diikuti, dan letak hal–hal yang dibenci lalu ditinggalkan. Ketiga; Alquran al Karim salah satu penyebab kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman seorang hamba di dunia dan akhirat, dan menumbuhkan kecerdasan dan kejeniusan yang tidak mungkin dicapai oleh hati yang lalai yang dipenuhi kesedihan dan kekotoran. Keempat; Mengambil ibrah dari para cendekiawan dunia pada dekade awal islam, para penghafal kitab Allah dan Sunnah Rasulnya kita bisa menengok para mufassir agung seperti At Thobari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir, Ar Roozi, Ibnu Taimiyyah dan yang lain- lainnya, yang ini membuktikan kepada kita betapa mereka adalah seagung- agung dalil atau atas pengaruh hafalan Alquran pada kejeniusan pikiran. Kelima; Menghafal Al Qur’an Al karim pada hakikatnya adalah membaca dan menelaah secara intensif, banyak para pakar modern ini sepakat bahwa membaca merupakan unsur terpenting dalam menambah kecerdasan bagi para penuntut ilmu, maka bagaimana jika bacaan yang dibaca adalah kalam atau ucapan yang paling mulia, paling baik dan paling suci. Wallahu A’lam. [] SUMBER ISLAMQA
ayat alquran tentang kecerdasan